Showing posts with label Rangkuman Buku. Show all posts
Showing posts with label Rangkuman Buku. Show all posts

Monday, 23 February 2009

Soekarno, Perjalanan Bung Karno ke Uni Soviet (III)

S
oekarno, Perjalanan Bung Karno ke Uni Soviet sesi 3. Perjalanan Soekarno berlanjut di Azerbaidjan, di atas kapal penjelajah “ Michael Kutuzov “ disambut oleh Laksamana Muda Tjursin dan Kapten Golota, komandan kapal tersebut. Presiden Soekarno menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan, sehingga dibutuhkan armada kapal laut yang memadai, beliau senang berada di kapal perang tersebut. Tak lama kemudian mendekati Sotji dan diberikan perintah untuk mengibarkan bendera Republik Indonesia.

Di Stalingrad, Presiden Soekarno melakukan lawatannya melihat kota penuh sejarah dalam perjuangan. Di puncak mamaev Kurgan dimana telah terjadi pertempuran sengit melawan fasis selama perang membela tanah airnya.

Para tamu Indonesia berlayar di terusan pelayaran Wolga – Don, naik kapal yang diberi nama Lenin. Pada saat makan siang, ketua panitia pekerja memberikan barang – barang tanda mata kepada para tamu. Ada satu tanda mata ialah sebuah kota kecil berkaca bertulisan : “Kepada rakyat Indonesia dari penduduk Stalingrad. Tanah keramat disirami oleh dara para prajurit Sovjet yang membela Stalingrad. Diambil di Mamaev Kurgan, tempat pertempuran sengit tahun 1942 – 1943.”

Perpisahan Presiden Soekarno diadakan di Kremlin oleh K.J. Worosjilov, kepala negara Sovjet. Begitulah kira – kira rangkuman dari buku perjalanan Presiden Soekarno. Semoga rangkuman ini kurang lebih dapat menambah wawasan atau mengenal mantan Presiden pertama Republik Indonesia.


M. Arief Gustianto

Read More

Tuesday, 17 February 2009

Soekarno, Perjalanan Bung Karno ke Uni Soviet (II)

S
oekarno, Perjalanan Bung Karno ke Uni Soviet sesi 2, Pada tanggal 29 Agustus Presiden Soekarno mengunjungi K.J. Worosjilov, Ketua Presedium Sovjet tertinggi URSS. Dan juga pada tanggal yang sama lawatan Presiden Soekarno diterima oleh Ketua Dewan Menteri URSS. N.A. Bulganin, resepsi ini dihadiri oleh Menteri Luar Negeri URSS. D.T. Sjepilov dan Duta besar luar biasa dan berkuasa penuh di URSS di Indonesia, D.A. Zjukov.

Selama kunjungannya di Moskow, Bung Karno mengunjungi pabrik pesawat terbang untuk penumpang, penyambutan yang luar biasa terjadi pula di pabrik ini.

Di Leningrad, artikel – artikel, feature – feature dan tulisan – tulisan lain tentang Indonesia mendapat tempat yang penting dalam pers Leningrad. Presiden Soekarno disambut dengan mengisi balai – balai musium dengan seribu macam barang untuk dipamerkan. Barang – barang tersebut memberikan gambaran perjalanan bangsa Indonesia dari jaman purbakala hingga saat itu.

Ketika kereta Presiden Soekarno dari Moskow sudah hampir tiba, jalan – jalan disekitarkan penuh sesak oleh ribuan rakyat Leningrad. Disambut dengan bendera Indonesia, URSS dan RFSFR. ” Selamat datang, tamu – tamu tercinta dari Indonesia”, begitulah sambutan yang diberikan dengan bahasa Indonesia dan Rusia, banyak pula yang membawa gambar Dr. Soekarno.

Di Leningrad, Presiden Soekarno melanjutkan lawatannya ke pabrik mesin – mesin. Banyak buruh – buruh pekerja tetap tinggal didalam pabrik walaupun dalam jam istirahat mereka untuk menyambut kedatangan tamu jauh mereka dari Indonesia. Di dalam pabrik tersebut diadakan rapat umum yang dibuka oleh Tichomirov sebagai ketua komite serikat buruh pabrik. Terdapat Dimitriev, seorang tukang gambar yang cakap dan terkenal sebagai seorang tukang penemu – penemu baru, dia mengatasnamakan para insinyur, ahli – ahli teknik dari pabrik itu menyambut tamu agung dari Indonesia.

Pada saat Presiden Soekarno hendak tampil ingin berbicara di podium, terdengarlah gemuruh sambutan yang diberikan. Presiden Soekarno berkata : ” Saudara – saudara menyebut saya sebagai Paduka tuan, akan tetapi oleh karena hati saya meluap – meluap dengan rasa cinta dan terima kasih saya minta saudara – saudara untuk tidak menyebut saya demikian, sebutlah saya Bung Karno.” Disambut oleh tepuk tangan yang gemuruh. Dilanjutkan ” Di negara saya sendiri saya disebut Bung Karno, dan saya menyebut orang – orang sebangsa saya ”saudara”. Perkenankanlah saya menyebut saudara demikian pula. Saya merasa gembira untuk berada di sini di tengah – tengah saudara. Tidak saja karena persesuaian jiwa kita, akan tetapi juga karena saya adalah seorang insyinyur, seorang ahli teknik, dan oleh karenanya saya menginsyafi arti yang besar dari teknik untuk membangunkan masyarakat yang baru yang damai dan makmur”.

Pada kenyataannya, revolusi politik di Indonesia masih belum selesai, walaupun masih ada wilayah Indonesia yaitu Irian Barat yang belum bebas dari jajahan, Indonesia sedang bekerja untuk mencapai masyarakat bahagia dan makmur. Melalui perjuangan dan persatuan, Indonesia akan membebaskan seluruh wilayahnya dari jajahannya. Dalam pidatonya Presiden Soekarno berkata “ Di Indonesia, pejoang – pejoang, orang – orang revolusioner, kawan – kawan saling memberi salam dengan kata – kata “Merdeka!”, Merdeka adalah cita – cita kami dan cita – cita saudara. Dan saya minta kepada saudara – saudara untu bersama – sama dengan saya memekikkan “Merdeka” lima kali”.

Ketika Presiden Soekarno menyelesaikan pidatonya, ketua komite buruh memberikan tanda mata berupa sebuah model dari nikkel yang mengkilap diambil dari rotor turbin air Kuibysjev. Sealam kunjungannya di Leningrad, rombongan Presiden Soekarno telah meinjau Petrodworets, sebuah istana besar peninggalan arsitektur Rusia abad ke 18. Tempat ini telah menjadi objek tamasya, tiap harinya datang beratus – ratus pengunjung.

Di Swerdlovsk, radio – radio setempat memberitahu bahwa para duta dari Indonesia akan hadir. Hari Minggu di siang hari, jalan – jalan menuju lapangan terbang sesak dengan manusia, ribuan orang berdiri menyambut tamu dari Indonesia dengan bendera – bendera Republik Indonesia, Sovjet Uni dan Federal Rusia.

Kunjungan singkat ini, dalam perpisahannya yang didatangi oleh ribuan orang beliau berkata “ Kami hendak meninggalkan kota saudara, dengan diperkaya oleh pengalaman dan pengetahuan. Pengalaman dan pengetahuan ini letaknya tidak saja pada apa yang telah kami lihat disini tentang pekerjaan saudara untuk membangunkan negara. Disini kami tak akan melupakannya”. Sebagai penutup “ Berbahagialah saudara – saudara. Kita jauh dimata, tapi dekat di hati.”

Di Tasjkent, merupakan tempat kedudukan Dewan Agama Islam untuk Asia Tengah dan Kazachstan yang diketuai oleh Mufti Isjan Babachan ibn Abdulmadjitchan. Terdapat 16 buah masjid besar dan 25 buah masjid lokal, pada hari pertamanya di sini, Presiden Soekarno menjalankan sembahyang di masjid pusat Sjeich – Tillja.

Sebuah rapat raksasa dilakukan di kota Tasjkent yang merupakan ibukota dari Uzbekistan, lebih dari 75000 orang datang ke stadion “Pachtakor”. Dalam pidatonya beliau berkata “Kami di Indonesia mempunyai orang – orang yang menganut kepercayaan yang sangat berbeda – beda, kami mempunyai orang – orang Islam, orang – orang Kristen, penganut agama Budha, akan tetapi rakyat Indonesia merasa bahwa mereka itu merupakan bangsa yang bersatu dan rakyat Indonesia saling memberi salam dengan kata – kata : Merdeka!”

“Saya berterimakasih pada saudara – saudara, atas segala bunga – bunga yang telah diberikan kepada delegasi atas bunga mawar yang banyak sekali. Bunga – bunga ini merupakan pernyataan dari persahabatan saudara bagi rakyat Indonesia. Saya berterima kasih atas mata saudara bersinar – Indonesia. Saya berterimakasih pada saudara atas semangat persahabatan yang hidup didalam siapa saja yang hadir disini.”

“Saudara – saudara, Tasjkent banyak sekali persamaannya dengan kota – kota di Indonesia. Iklimnya sama dengan di Indonesia, langitnya sama jernihnya sebagai dinegeri kami sendiri, panasnya sama dan pohon – pohonnya sama. Gedung – gedung di Tasjkent juga mengingatkan pada gedung – gedung di banyak kota di Indonesia. Akan tetapi apa yang paling penting, rakyat Indonesia memiliki persamaan denga rakyat saudara. Dan oleh karena itu, meskipun Tasjkent terpisah dengan rakyat saudara. Dan oleh karena itu, meskipun Tasjkent terpisah sejauh beribu – ribu mil dari negeri kami, meskipun dipisahkan dari negara kami oleh lautan – lautan yang tak terhingga, dataran – dataran yang tak kenal batas dan gunung – gunung, kami semua merasa seperti dirumah sendiri disini, ditengah – tengah keluarga kami sendiri seolah – olah.”

“Saudara, saudara – saudara disini telah menyambut kami dengan pernyataan – pernyataan cinta dan pekikan – pekikan yang keras, apakah saya bertanya, yang menjadi pendorongnya ? Apakah karena kedatangan ke negeri saudara seorang yang namanya Soekarno ? Jawab saya adalah bukan, bukan karena datangnya disni seorang yang namanya Soekarno atau Bung Karno, sebagai yang saudara katakan kaka Karno. Kegembiraan saudara bukan karena kedatangan saya. Kegembiraan, kecintaan dan persahabatan saudara menyatakan perasaan saudara untuk rakyat Indonesia seluruhnya dan tidak untuk salah satu individu.”

”Untuk itu semua saya mengucapkan terimakasih secara tulus ikhlas. Akan tetapi seandainya saya ditanya setelah berfikir sebentar apakah salam ini benar – benar ditujukan kepada rakyat Indonesia, saya akan menjawab bahwa salam saudara disini tidak ditujukan pada rakyat Indonesia, akan tetapi pada suatu cita – cita tentang persamaan dan perdamaian.”

”Di Indonesia, pemuda merupakan harapan bangsa kami. Hal itu demikian pula dengan pemuda saudara, dengan pemuda Sovjet Uni. Itulah sebabnya mengapa saja hari ini telah berkata dalam Lembaga Paeagogi bahwa pemuda semua negara harus berjoang bersama – sama untuk ide ko – eksistensi secara perdamaian antara semua negara, untuk perdamaian diseluruh dunia.”

”Saya datang kemari sebagai seorang wakil dari rakyat Indonesia, dan sebagai wakil dari rakyat Indonesia saja berseru kepada semua bangsa di Utara dan di Selatan, di Barat dan Timur. Saya berserukepada semua bangsa, tak pandang warna kulitnya, putih atau hitam, kuning atu coklat, marilah kita semua bekerjasama, saudara – saudara, marilah kita semua bekerja bersama untuk perdamaian. Saya berseru kepada banga – bangsa seluruh dunia untuk bekerja bersama dan berjoang bersama untuk perdamaian yang kekal.”

”Oleh karena saya menjadi merasa sangat gembira bahwa saling hormat – menghormati dan persahabatan hidup antara rakyat – rakyat kita, antara rakyat Indonesia dan rakyat Sovjet Uni. Saya meminta pada saudara semua untuk didalam hati berkata : Hidup persahabatan antara rakyat semua negara. Hidup saling hormat – menghormati antara semua bangsa! Hidup untuk dunia baru!” Di akhir pidatonya, Presiden Soekarno meyakinkan bahwa persahabatan Indonesia dan Sovjet Uni akan hidup selama – lamanya.

Sebuah moment yang tidak kalah penting adalah pada saat kunjungannya di Tasjkent, sebuah keluarga merayakan kelahiran bayi wanita, dan meminta nama untuk bayinya tersebut ke Bung Karno. Bung Karno memberikan nama bayi tersebut ”Julduz” yang berarti bintang.

Begitulah perjalana Presiden Soekarno di Uzbekistan. Akan saya lanjutkan pada artikel selanjuntya.


M. Arief Gustianto
Read More

Tuesday, 27 January 2009

Soekarno, Perjalanan Bung Karno ke Uni Soviet (I)


S
oekarno, Perjalanan Bung Karno ke Uni Soviet sesi 1. Kita adalah bagian dari sejarah bangsa ini, sekiranya saya ingin membagi salah satu sejarah dari presiden pertama Indonesia ini yaitu pada saat lawatannya ke uni soviet . Penulisan ini dikutip dari sebuah buku dengan penerbit MULTATULI, diliat dari sepatah katanya ditulis Nopember 1978.

Perjalanan ini dimulai dari tanggal 28 Agustus 1956 sampai pada tanggal 12 september 1956, Bung Karno hadir di sana diundang oleh presidium Soviet tertinggi Uni Republik – Republik Soviet Sosialis. Ditemani oleh Ruslan Abdulgani ( Menteri Luar Negeri ), Zainul Arifin ( Wakil Ketua I Parlemen ), Arudji Kartawina ( Wakil Ketua II Parlemen ). Ada juga beberapa anggota parlemen yang ikut serta pada lawatan itu seperti Dr. Sukiman Wirjosandjojo, Dr. Leimena, Sutarto Hadisudibjo, selain itu juga ada pejabat – pejabat tinggi pemerintahan, perwira – perwira tinggi dari angkatan darat, laut dan udara beserta wartawan – wartawa Indonesia.

Di Uni Soviet, terjadi perundingan yang membahas masalah – masalah internasional yang sedang terjadi saat itu dan juga tentang kerjasama diantara Indonesia dan USSR.
Berikut hasil perundingan kedua belah pihak :
1. Kedua buah Negara mendasarkan hubungan – hubungan mereka antara yang satu dengan yang lain pada prinsip – prinsipnya saling menghormati keutuan wilayah dan kedaulatan, tiada campur tangan dalam urusan – urusan dalam negeri masing – masing, non – agresi, persamaan derajat dan saling menguntungkan, koeksistensi secara damai.
2. Bertalian dengan masalah – masalah internasional semacam pelucutan senjata, perjoangan melawan kolonialisme, pelarangan terhadap penggunaan serta percobaan alat – alat senjata atom dan thermonuclear dan lain – lain, URSS dan Republik Indonesia berpedoman pada semangat dan prinsip – prinsip Konperensi Bandung.

Lain dari pada itu Sovjet Uni dan Republik Indonesia telah menyatakan bahwa adanya pakt – pakt militer tidak memajukan usaha – usaha untuk mengurangi ketegangan internasional yang begitu penting untuk mencapai perdamaian dunia.

Dalam hubungan ini diberikannya tempat yang syah pada Republik Rakyat Tiongkok dalam PBB telah diakui tidak saja merupakan tindakan yang wajar tapi juga merupakan suatu sumbangan yang konstruktif untuk perdamaian dunia.

Bertalian dengan situasi yang telah timbul dewasa ini di daerah Terusan SUEZ, kedua belah fihak menyatakan bahwa masalah ini harus dipecahkan secara damai atas dasar sepenihnya menghormati kedaulatan dan harga diri Mesir.
3. Dalam perkembangan yang wajar daripada semangat persahabatan antara USSR dan Republik Indonesia telah tercapailah sebuah persetujuan tentang pembentukan kerjasama dalam lapangan perdagangan, teknik dan ekonomi, atas dasar persamaan derajat dan saling menguntungkan. Dalam hubungan ini kedua belah fihak telah menyatakan keyakinan mereka yang penuh bahwa perundingan - perundingan yang kini sedang dilangsungkan di Jakarta akan menghasilkan ditanda tanganinya sebuah teknik dan ekonomi dan terutama pemberian kredit jangka panjang dari Sovjet Uni kepada Reublik Indonesia dan pengiriman bahan – bahan mentah serta barang – barang lainnya dari Republik Indonesia ke Sovjet Uni.
4. Dalam lapangan kerjasama kebudayaan, kedua belah fihak telah sepakat untuk menjelenggarakan suatu tukar menukar delegasi – delegasi, mahasiswa – mahasiswa dan ahli – ahli kebudayaan, terutama pekerja – pekerja kesenian dan ilmu pengetahuan, dan lain – lain.
5. Kedua belah fihak merasa sepenuhnya puas dengan terwujudnya hubungan – hubungan pribadi antara ahli – ahli negara yang memegang pimpinan dari URSS dan Republik Indonesia dan telah menyatakan keyakinan mereka bahwa tukar menukar pendapat yang telah dilakukan itu akan semakin memperkokoh ikatan – ikatan persahabatan antara URSS dan Republik Indonesia yang tidak saja akan menguntungkan rakyat Sovjet Uni akan tetapi juga rakyat Republik Indonesia serta perdamaian dunia.
6. Presiden Soekarno dari Republik Indonesia telah mengundang K.J. Worosjilov, Ketua Presidium Sovjet Tertinggi URSS untuk mengunjungi Indonesia pada waktu yang dianggapnya baik. Undangan ini telah diterima dengan senang hati.

Di Moskow, perjuangan dari rakyat Indonesia untuk kebebasan dan kemerdekaan menjadi perhatian dari rakyat Uni Soviet. Pada saat mereka mengetahui bahwa Presiden Soekarno datang Moskow, ratusan ribu rakyat menyambutnya dengan “ Selamat datang saudara!”, mereka menanti memenuhi lapangan terbang pusat dengan atribut foto Bung Karno dan spanduk dengan tulisan – tulisan sambutan. Disambut pula oleh ketua Presedium Soviet tertinggi USRR, K.J Worosjilov, ketua dewan menteri URSS, N. Bulganin, Imam – Chatib dari masjid pusat Moskow, Kamareddin Salichov dan imam dari masjid tersebut, Achmitdjan Mustafin.

K.J. Worosjilov mengucapkan selamat datang “Kunjungan tuan adalah sebuah peristiwa yang penting. Ini akan membantu untuk semakin mengembangkan hubungan – hubungan persahabatan antara Republik Indonesia dan Sovjet Uni dan untuk memajukan perdamaian umum serta kerjasama secara damai antara semua Negara.”

“Sudah diketahui oleh umum bahwa rakyat negeri kami memperhatikan dengan minat yang besar dan rasa simpati yang dalam terhadap perjoangan kemerdekaan, yang gagah perwira yang dilakukan oleh rakyat Indonesia. Cita – cita yang adil yang diperjoangkan oleh Indonesia telah dapat direbut. Kami merasa gembira karena melihat bahwa Negara tuan sekarang sedang membangun dengan penuh kepercayaan perekonomian nasional yang merdeka dan Pemerintah Indonesia menjalankan politik luar negeri yang tegas yang merupakan sumbangan sangat berharga bagi cita – cita perdamaian universal.”

“Salah satu dari kenyataan – kenyataan yang mempunyai ciri istimewa dalam jaman kita yang mempunyai arti besar dalam sejarah dunia adalah peranan yang tiada bandingan besarnya yang dimainkan oleh bangsa – bangsa di Timur. Sekarang diwakili dalam hubungan – hubungan internasional sebagai bangsa – bangsa yang merdeka dan mereka ikut ambil bagian yang penting dalam memutuskan nasib dunia. Indonesia memainkan peranan yang sangat penting serta kuat untuk memperkokoh persatuan Negara – Negara Asia dan Afrika dalam perjoangan mereka untuk kemerdekaan, melawan kolonialisme dan akibat – akibatnya.”

“Sovjet Uni akan selalu ingat dan sangat menghargai jasa – jasa yang telah diberikan oleh Indonesia dan ahli – ahli negaranya yang cakap, Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, dalam menyelenggarakan Konperensi Bandung yang bersejarah. Konperensi itu dengan tegas menyatakan kemauan dari bangsa – bangsa di Timur untuk menentukan nasib mereka sendiri tanpa campur tangan dari luar dan untuk menyusun hubungan mereka dengan bangsa – bangsa lain atas dasar lima asaz yang sekarang telah mendapat pengakuan umum yang luas.”

“Dalam politik luar negerinya, Sovjet Uni dan Indonesia mendasarkan tindakan – tindakannya pada lima azas ini dan berjoang dengan ulet untuk melaksanakannya dalam praktek demi kepentingan perdamaian diseluruh dunia dan menyokong cita – cita Indonesia untuk mewujudkan keutuhan serta kemerdekaan yang penuh bagi wilayahnya.”

“Perkenankanlah saya tuan Presiden, untuk sebagai penutup, memberi jaminan pada tuan bahwa segala – galanya akan dilakukan di Bumi Sovjet untuk membuat kunjugan tuan menjadi sukses dan untuk membuatnya dapat semakin memperkokoh persahabatan Sovjet – Indonesia lebih dari pada yang sudah – sudah untuk kebaikan rakyat kedua negara kita. Selamat datang, tamu – tamu kita yang tercinta !”

Di sambut bung Karno dengan berkata : “ Saya membawa untuk untuk Sovjet Tertinggi, untuk semua pemimpin dai rakyat Sovjet dan rakyat Sovjet seluruhnya salam dari delapan puluh juta rakyat Indonesia. Sebagai suatu bangsa, sebagai bangsa Indonesia, kami masih tetap dalam tingkatan perjoangan, dalam tingkata perjoangan dan pembangunan. Dalam perjoangan ini dan dalam pembangunan ini kami memiliki tiga tujuan pokok dihadapan kami. Yang pertama adalah untuk mencapai kemerdekaan politik yang sempurna karena sebagai tuan tahu, sebagaian dari negeri kami masih tetap berada di bawah kekuasaan asing. Tujuan kami yang kedia ialah suatu masyarakat yang didasarkan pada keadilan dan kemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia. Kami insyaf bahwa tercapai terkecuali jika terdapat perdamaian yang sempurna di seluruh dunia. Dan inilah yang menentukan tujuan kami yang ketiga, yaitu : untuk memberikan sumbangan kami kearah perdamaian dunia.”

“Kami tahu benar bahwa rakyat Sovjet Uni selalu berjuang untuk kemerdekaan, bahwa mereka selalu berjoang dan sedan berjoang untuk membangunkan suaru masyarakat yang didasarkan pada keadilan dan kemakmuran.”

“Rakyat Sovjet bekerja bersama dengan bangsa – bangsa lain untuk menyelamatkan perdamaian diseluruh dunia.”

“Oleh karenanya saya merasa gembira untuk menerima undangan dari Paduka Yang Mulia dan dari Pemerintah URSS untuk mngunjungi Sovjet Uni dan dengan segala senang hati menerima baik undangan ini.”

“Jika sebagai hasil dari perjalanan ini kami berhasil untuk memperkokoh persahabatan antara rakyat Sovjet Uni dan rakyat Indonesia, saya akan merasa sangat bahagia dan puas. Sebagai suatu bangsa, sebagai bangsa Indonesia, kami menjadi merdeka sebelas tahun yang lalu. Akan tetapi kami bukan bangsa yang muda. Kami adalah bangsa yang tua. Selama 350 tahun kami ditindas oleh penjajahan dan pemerasan. Kemerdekaan negeeri kami, kemerdekaan Republik Indonesia, diproklamasikan sebelas tahun yang lalu, akan tetapi hingga sekarang kami mempunyai kesempatan tidak lebih dari 5 – 6 tahun untuk mencurahkan perhatian guna mengembangkan negeri kami. Dengan sendirinya, kami masih harus berbuat banyak sekali. Dan oleh karena itu kami akan gembira untuk memelihara persahabatan dengan rakyat tuan yang besar.”

Demikian gambaran sambutan yang diterima oleh presiden Soekarno pada saat kehadirannya di Sovjet. Akan dilanjutkan pada artikel selanjutnya.

M Arief Gustianto

Read More